Selasa, 08 Mei 2012

GUNUNG BURANGRANG

Cimahi – Waktu saat itu telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Kesibukan para pedagang dan pembeli di pasar Cimahi lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena hari itu bertepatan dengan jatuhnya hari libur nasional. Atau mungkin juga bertepatan dengan hari terakhir dari rangkaian libur selama tiga hari yaitu 17-19 Maret 2007. Biasanya banyak orang yang memanfaatkan rangkaian libur panjang seperti itu untuk melakukan berbagai kegiatan yang jauh dari keramaian kota.

Masih dalam rangkaian aktifitas pendakian ”3 Hari Menggapai 3 Puncak Gunung di Jawa Barat”, Kami bertiga memanfaatkan hari libur panjang pada pertengahan bulan Maret tersebut untuk mendaki tiga puncak gunung di Jawa Barat. Gunung-gunung tersebut yaitu Gunung Papandayan, Gunung Guntur dan Gunung Burangrang.

Gunung Burangrang kami pilih menjadi penutup dari tiga hari pendakian tiga puncak gunung di Jawa Barat. Salah satu alasannya karena jalur pendakian yang kami pilih untuk mencapai puncaknya dan kembali turun lagi membutuhkan waktu yang relatif singkat yaitu sekitar 4-5 jam. Sebagai titik awal pendakian atau entry point kami pilih Jalur Komando, Cimahi. Sedangkan untuk titik akhir pendakian atau exit point kami memilih Jalur Legok Haji atau Cisurupan, Cimahi.

Pasar Cimahi menjadi awal dari perjalanan kami menuju Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua. Karena tidak ada rencana untuk bermalam di Gunung Burangrang, perbekalan yang kami siapkan sebagian besar merupakan makanan matang atau langsung dapat disantap dan semuanya dapat diperoleh di pasar tersebut.

Tidak sampai setengah jam perjalanan dengan menggunakan angkutan kota dari Pasar Cimahi, akhirnya kami sampai di sebuah tempat yang bertuliskan Komando. Walaupun wilayah tersebut merupakan bagian dari Desa Kertawangi namun Komando menjadi nama yang hingga kini lebih dikenal oleh para penggiat alam bebas. Nama Komando sendiri diambil karena kawasan tersebut memang merupakan tempat latihan militer para Kopasus.

Bukan Monopoli Pendaki
Sebuah papan petunjuk bertuliskan ”Selamat Datang di Daerah Latihan Tahap Gunung Hutan Komando Situ Lembang” langsung menyambut kami selepas berjalan melintasi pintu masuk kawasan.

Tepat sekitar pukul sepuluh pagi pendakian menuju titik puncak Gunung Burangrang kami mulai. Melewati sebuah warung yang lebih dikenal dengan warung Bandrek, kami melintasi perkebunan sayur dan hutan pinus. Suara kicauan burung dan kesibukan para petani sayuran menjadi harmoni keindahan yang mengiringi awal perjalanan kami. Kemudian pemandangan hutan pinus lebih mendominasi perjalanan kami. Jalurnya yang landai dan sedikit menanjak merupakan awal yang baik untuk mengawali sebuah pendakian. Secara perlahan aneka jenis tumbuhan khas hutan hujan tropis memberi keteduhan kepada kami.

Setengah jam pertama perjalanan dari Warung Bandrek, kami sampai di dataran yang bisa disebut sebagai pos pertama. Sebuah pemandangan menarik sudah dapat kami nikmati dari sini. Tampak di kejauhan Situ (danau) Lembang terlihat jernih bercahayakan sinar mentari. Jernihnya danau tersebut dan hijaunnya hutan yang mengelilinginya menjadikan area tersebut begitu menawan.

Berbagai sarana penunjang dan daya tarik alam Gunung Burangrang bukan hanya menjadi monopoli para penggiat alam bebas saja. Berbagai himpunan kegiatan mahasiswa, kegiatan Outbound, komunitas para penggila mobil 4WD, dan motor, adalah termasuk kelompok yang memanfaatkan kawasan dasar kaldera yang masuk jajaran hasil letusan Gunung Sunda Purba ini. Termasuk para pengunjung yang ingin sekedar menikmati alamnya saja sambil berkemah atau memancing,

Sulit bagi saya rasanya untuk membayangkan seberapa besar dan tinggi Gunung Sunda Purba dahulu sebelum meletus. Dari literatur yang pernah saya baca, Gunung Burangrang merupakan satu bagian dari jejeran pegunungan yang berjejer dari utara cekungan Bandung barat hingga ke timur yang terbentuk dari hasil letusan Gunung Sunda Purba di masa lampau yang kini menjadi Kaldera Sunda. Bagian lain dari Kaldera Sunda tersebut diantaranya Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Bukit Tunggul dan lembah-lembah di utara sesar Lembang. Yang sempat terlintas di pikiran saya, Gunung Sunda Purba tersebut juga merupakan gunung api raksasa.

Tantangan Menuju Puncak
Selepas camp pertama, jalur yang kami tempuh perlahan mulai menanjak. Jalan setapak di punggungan gunung yang kami tempuh semakin lama semakin terjal. Beberapa batuan yang menempel kuat di tanah dan batang serta ranting pohon merupakan benda-benda yang dapat membantu kami untuk naik ke atas. Jalur menanjak dan terjal diselingi beberapa jalur yang landai menjadi bagian dari perjalanan menuju puncak Gunung Burangrang.

Kira-kira 20 menit perjalanan selepas camp pertama, kami beritirahat sejenak di tanah datar yang tidak terlalu luas. Namun pemandangan yang disuguhkan sungguh menawan kami. Nampak di sisi kanan hamparan lembah yang menghijau oleh rimbunnya hutan. Keindahan tersebut semakin lengkap dengan adanya sebuah danau – Situ Lembang – yang terletak di tengah-tengah lembah.

Trek pendakian menuju puncak bayangan yang lebih terbuka membuat kami dapat dengan leluasa menikmati suasana sekelilingya. Bahkan ketika kami melewati jalur yang di sisi kanannya berupa tebing berbatu cadas, hamparan lembah yang menghijau dengan Situ Lembangnya yang berada jauh di bawahnya benar-benar menyuguhkan pemandangan yang menawan. Sedangkan di sisi lainnya hamparan sawah, perkebunan penduduk serta area di sekitarnya yang nampak terlihat jelas.

Sampai akhirya kami menemukan sebuah plakat semacam batu nisan untuk mengenang seorang teman dan sahabat penggiat alam bebas yang telah meninggal di kawasan ini. Plakat tersebut juga merupakan tanda bahwa kami telah sampai di puncak bayangan. Dari puncak bayangan ini kami dapat melihat sekelilingnya dengan jelas seperti lembah, Situ Lembang dan jejerang pegunungan lainnya.

Tidak sampai lima menit, dengan jalur sedikit landai kemudian menanjak, kami menginjakkan kaki di puncak gunung ini. Sebuah trianggulasi (bangunan penunjuk ketinggian daratan) berukuran tinggi 1,5 meter menjadi tanda tuntasnya kami menggapai puncak Gunung Burangrang. Waktu yang masih menunjukkan pukul satu siang dan cuaca yang cerah membuat pemandangan dari puncak gunung yang mempunyai ketinggian 2.048 mdpl ini sangat indah. Nampak jajaran bukit dan pegunungan yang menjadi bagian dari jajaran hasil letusan Gunung Sunda Purba. Keelokan sebuah gunung yang telah menjadi bagian dari legenda Sangkuriang, Gunung Tangkuban Perahu tidak jauh dari gunung Burangrang, turut membawa kami ke dalam khayalan cerita legenda tersebut. Hamparan kebun, sawah, desa, serta kota-kota disekitar Cisarua, Situ Lembang dan lembah yang menghijau menyatu menjadi sebuah lukisan alam yang sempurna.

Ditengah pesona keindahan alam tersebut kami menyantap perbekalan makanan yang telah kami bawa. Ini merupakan makan siang yang sangat nikmat kami rasakan. Dan tidak terasa hampir satu jam kami berada di puncak. Waktunya bagi kami untuk segera turun meninggalkan puncak Gunung Burangrang.

Untuk turun dari puncak Gunung Burangrang kami memilih jalur yang berbeda dengan jalur naik. Desa Legok Haji atau Desa Cisurupan, Kecamatan Cisarua, menjadi jalur pilihan kami untuk turun. Dari puncak Gunung Burangrang, kami langsung memilih jalur yang berlawanan ketika tiba.

Jalur yang menuju Desa Cisurupan akhirnya menjadi pilihan kami. Setelah menapaki jalan setapak diantara tanaman jenis semak dan ilalang kami memasuki kawasan yang sedikit ditumbuhi hutan Pinus. Perkebunan sayur dan perkampungan penduduk di Desa Cisurupan sudah nampak jelas di hadapan kami. Lima belas menit kemudian kami pun memasuki desa yang asri tersebut. Sebuah desa di kaki Gunung Burangrang yang menjadi penghasil aneka jenis bunga dan sayuran, akhirnya menjadi penutup perjalanan 3 hari kami untuk menggapai 3 puncak gunung di Jawa Barat. Bentangan alamnya yang memukau dan keindahan yang menggoda serta waktu yang relatif singkat untuk mencapai puncaknya (±3 jam), menjadikan Gunung Burangrang hingga kini tetap layak untuk dijelajahi. Akankah anda menunggu lagi?.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar