Minggu, 28 November 2010

GUNUNG CIREMAI

Gunung Ciremai yang memiliki ketinggian 3.078 mdpl merupakan gunung api aktif bertipe Strato, berada di tiga kabupaten, yakni Cirebon, Kuningan dan Majalengka. Gunung ini pun merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ceremai (TNGC) seluas 15.000 hektare.

Gunung Ceremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.


Ceremai merupakan gunungapi generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu (Situmorang 1991).

Letusan G. Ceremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah baratdaya G. Ciremai, yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ceremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga Desa Cilimus di timur G. Ceremai.

Gunung Ciremai memiliki dua kawah utama, Kawah barat dan Kawah Timur, serta kawah letusan kecil, Gua Walet. Secara geografis puncaknya terletak pada 6°53'30"LS dan 108°24'00"BT. Letusan terakhirnya tercatat pada tahun 1973. Gunung Ciremai dapat didaki dari arah timur melalui Linggarjati (580 m.dpl), dari arah selatan melalui Palutungan (1.227 m.dpl) dan dari arah barat melalui Maja (lewat Apui dan lewat Argalingga).

Nama gunung ini berasal dari kata cereme (Phyllanthus acidus, sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rada masam), namun seringkali disebut Ciremai, suatu gejala hiperkorek akibat banyaknya nama tempat di wilayah Pasundan yang menggunakan awalan 'ci-' untuk penamaan tempat.

Jalur Linggarjati dan jalur Palutungan adalah jalur yang paling banyak dilalui, merupakan jalur yang dianjurkan pengelola kawasan di sekitar Gunung Ciremai. Tentu saja karena jalurnya yang landai dan relatif jelas.

Dari ketiga jalur tersebut, pilihan menuju puncak hendaknya di dasarkan pada kebutuhan dan kemampuan personil. “jika ingin cepat kita bisa memilih jalur apuy yang terjal atau jika ingin santai, kita bisa memilih jalur Linggarjati atau palutungan”.

JALUR LINGGARJATI

Desa Linggarjati merupakan salah satu jalur pendakian ke Gunung Ciremai. Dari Cirebon atau Jakarta, kita naik bus jurusan Kuningan dan turun di Terminal Cilimus atau di pertigaan menuju pusat Desa Linggarjati. Perjalanan ke Desa Linggarjati diteruskan dengan minibus. Di daerah Linggarjati terdapat Kantor Balai TNGC, yang merupakan akses utama menuju kawasan.

“di banding jalur Palutungan, jalur Linggarjati lebih curam dan sulit, dengan kemiringan sampai 70 derajat. Di jalur ini air hanya terdapat di Cibunar”,

Persediaan air pergi-pulang hendaknya dipersiapkan di Cibunar –salah satu pos-- , karena setelah ini tidak ada mata air lagi. Dari Cibunar, kita mulai mendaki melewati perladangan dan hutan Pinus, untuk tiba di Leuweung Datar (1.285 mdpl), Condang Amis (1.350 mdpl), Blok Kuburan Kuda (1.580 mdpl), Pengalap (1.790 mdpl) dan Tanjakan Binbin (1.920 mdpl). Lalu Tanjakan Seruni (2.080 mdpl), dan Bapa Tere (2.200 mdpl), untuk selanjutnya tiba di Batu Lingga (2.400mdpl), dimana terdapat sebuah batu cukup besar ditengah jalur.


Dari Batu Lingga kita akan melewati Sangga Buana Bawah (2.545 mdpl) dan Sangga Buana Atas (2.665 mdpl), selanjutnya kita akan sampai di Pengasinan (2.860 mdpl). Di sekitar Pengasinan akan dijumpai Edelweis Jawa (Bunga Salju) yang keberadaannya semakin langka.

“Pendakian dari jalur Linggarjati membutuhkan waktu 8-11 jam dan 5-6 jam untuk turun, karenanya kita harus mendirikan tenda di perjalanan. Untuk itu perlengkapan tidur (sleeping bag, tenda dsb), dan perlengkapan masak menjadi sebuah keharusan”.

JALUR PALUTUNGAN

Sedangkan Jalur Palutungan tidak securam Linggarjati, tetapi perlu tambahan waktu 2-3 jam. Kesana bisa dicapai dari Terminal Kuningan langsung menuju Desa Palutungan. Dari Palutungan pendakian diteruskan ke Cigowong Girang (1.450 mdpl), berlanjut ke Blok Kuta (1.690 mdpl) dan Blok Pangguyungan Badak (1.790 mdpl).

Jika dirasa fit, perjalanan dilanjutkan melewati Blok Arban (2.030 mdpl), Tanjakan Assoy (2.108 mdpl). Blok Pesanggrahan (2.450 mdpl), Blok Sanghyang Ropoh (2.590 mdpl), berujung pada pertigaan (2.700 m.dpl) yang menuju ke Apui dan ke Kawah Gua Walet. Dari pertigaan kita menuju Kawah Gua Walet (2.925 m.dpl) untuk mengambil air dan berlanjut ke puncak Ciremai, yang letaknya tidak begitu jauh.

JALUR APUY

Rute ketiga; jalur Apuy merupakan jalur paling menantang. Untuk mencapainya, bisa dilakukan dari kota Cirebon dengan naik bus menuju Majalengka, berlanjut dengan naik minibus ke Desa Maja (556 m dpl), lalu ke Desa Cipanas tempat kampung Apuy (1.100mdpl) berada.

Awal pendakian dimulai dari perladangan dan hutan produksi untuk sampai di Berod selama 3-4 jam perjalanan. Perjalanan diteruskan menuju ke Simpang Lima(Perempatan Alur), lalu Tegal Mersawah yang mengarah ke Pangguyangan Badak.

Selanjutnya perjalanan diteruskan ke Tegal Jumuju (2.520 m dpl) yang jaraknya tak begitu jauh dari Sanghyang Rangkah, lokasi yang merupakan tempat pemujaan. Dari sini perjalanan kita teruskan menuju ke Gua Walet (2.925 m dpl).
“Gua walet merupakan bekas letusan berbentuk terowongan. Disini kita biasa mendirikan tenda karna tersedia air bersih. Esok harinya kita bisa menuju ke Tepi Kawah (3.056 m dpl) dan Langsung ke puncak”.

2 komentar: